Note. Berita cetak di harian Radar Malang.

Tiga puluh enam tahun jadi penderita diabetes, dr Zainal Gani Apk akhirnya sembuh berkat santan kelapa murni. Lalu, dia memproduksi virgin coconut oil (VCO) dengan mesin ciptaannya sendiri dengan metode pendinginan. Kampus dari Malaysia, Filipina, India, Spanyol, Swiss, Jerman, hingga Jepang pun tertarik mengunjungi pabrik VCO ini.

Rumah produksi virgin coconut oil (VCO) di Kota Malang ini memiliki tempat yang cukup luas, sekitar 2.000 meter persegi. Pabrik yang dibangun dengan bahan mayoritas kayu itu cukup rindang atmosfer yang berbeda. Sebab, lebih mirip dengan guest house dibandingkan pabrik.

Di sebelah kiri gerbang terdapat padepokan dengan suasana yang nyaman dan luas, khas bangunan tempo dulu. Baru agak masuk tampak bangunan besar yang difungsikan sebagai pabrik. Di dalam pabrik pun, walaupun kondisi masih pagi, yakni sekitar pukul 08.30, kesibukan sudah terlihat dari karyawan yang didominasi oleh perempuan. ”Aktivitas di sini sudah mulai pukul 06.30,” kata Gani, yang rumahnya juga berada di kompleks pabrik tersebut.

Macam-macam yang dilakukan karyawan tersebut, mulai dari memisahkan kelapa dengan tempurungnya, memarut kelapa dengan mesin khusus, memeras kelapa, dan menghasilkan santan, kemudian mendinginkan santan dengan mesin khusus yang dia ciptakan sendiri. Kemudian diproses lagi hingga menghasilkan VCO. ”Prosesnya memang cukup lama. Produk yang dihasilkan memang bagus,” terang dokter pensiunan dinas kesehatan sejak 2002 lalu ini.

Gani mengatakan, awal mula perkenalannya dengan VCO ini saat tahun 2002 lalu mendatangi pameran yang ada di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, di Karangploso, Kabupaten Malang. Saat itu dia mendapatkan informasi dari salah satu profesor yang meneliti mengenai VCO ini. Bahwa, minyak kelapa murni ini memiliki banyak sekali kandungan yang bermanfaat untuk kesehatan.

Salah satunya bisa mengobati diabetes dan bagus untuk jantung. Bagi orang yang sudah menderita diabetes selama 36 tahun, tentu saja hal ini seolah menjadi angin segar bagi kesehatannya. ”Ketika saya tanya ke asisten penelitinya, kok bisa VCO mengobati berbagai penyakit, khususnya diabetes. Dia hanya menjawab ’pokoknya bisa’. Sangat tidak ilmiah. Saya tidak puas,” ujar pria yang studi kedokterannya dalam kurun waktu 13 tahun ini.

Rupanya takdir yang mempertemukan VCO dengan Gani. Sebab, pada tahun 2004 ketika dia dan rombongan dari Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Malang berkunjung ke Tondano, Sulawesi Utara, dalam rangka Pekan Nasional, dia kembali bertemu dengan si minyak ajaib ini. Saat itu, yang mempromosikan manfaat VCO adalah ketua Kelompok Tani Manado yang bernama Umpel. Dari dialognya dengan Umpel yang hanya lulusan SMP itu, dia mendapatkan jawaban secara ilmiah mengenai manfaat VCO.

”Pak Umpel menjelaskan bahwa dalam VCO terkandung zat tokoferol yang merupakan vitamin E dosis tinggi yang bermanfaat sebagai antioksidan. Tokoferol merupakan obat jantung paling murah. Saya tertarik,” ujar dia.

Selain itu, VCO yang berasal dari santan kelapa murni juga mengandung zat yang bernama lauric acid. Lauric acid adalah zat yang ditemukan di dalam air susu ibu, sehingga bisa dibilang santan kelapa semurni ASI. ”Banyak sekali manfaatnya. Sebenarnya orang bisa sehat hanya dengan rajin mengonsumsi santan kelapa saja,” terangnya.

”Sebab, banyak manfaat santan untuk kesehatan. Sudah saya buktikan dan aman untuk segala usia dan kesehatan. Konsumsi santan adalah hak orang untuk sehat,” jelas dr Zainal Gani.

Mulai tahun 2004, dia mulai memproduksi Virgin Coconut Oil. Saat itu, tidak ada guru bagi dokter yang pernah berdinas selama tiga tahun sebagai dokter militer, sejak 1979–1982 ini. Dia mencoba untuk membuat VCO dengan metode fermentasi. Metode fermentasi merupakan proses pemisahan antara air dari santan kelapa dengan minyaknya.

Sebab, VCO merupakan minyak murni bening selayaknya air minum. Untuk metode fermentasi ini, santan kelapa dibiarkan busuk dalam kurun waktu sekitar sehari semalam. Namun sayangnya, VCO yang dihasilkan baunya busuk dan tidak enak dikonsumsi. ”Saya saja meminumnya perut saya kembung. Akhirnya, proses VCO dengan fermentasi tidak saya lanjutkan,” terangnya.

Setelah itu, dia mencoba untuk meminum satu gelas santan kental. Dia ingin mengetahui efek yang dia rasakan terhadap penyakit diabetes yang dideritanya jika diberi santan kelapa. Awalnya, kadar gula darahnya mencapai 265, tapi setelah meminum satu gelas santan kental, keesokan harinya setelah dia cek, gula darahnya turun menjadi 165. ”Dalam semalam turun hingga 100. Padahal, selama saya mengonsumsi obat tidak pernah turun sebanyak itu. Dulu rambut saya sampai rontok dan tubuh saya kurus sekali,” terangnya.

Dr-Zainal-Gani-ApkBerkaca dari pengalaman itu, akhirnya dia semakin giat untuk mengembangkan VCO. Metode fermentasi sudah tidak dia lakukan lagi. Dia terus mencoba, salah satunya menggunakan metode pemanasan bertingkat. Untuk metode yang satu ini, juga tidak dia lakukan. Sebab, menurutnya, akan mengubah kandungan dari VCO. Setelah mencoba secara otodidak, akhirnya dia memutuskan untuk membuat VCO dengan metode cold press – centrifuge.

Dasar pemikirannya cukup sederhana. Jika santan yang mengandung minyak diatur pada suhu tertentu, maka akan lebih mudah dipisahkan antara minyak dan airnya. ”Saya eksperimen selama kurang lebih enam bulan, mulai pertengahan 2003. Setiap hari mencoba hingga tidur pukul dua dini hari. Saya juga sudah menghabiskan 8 mesin untuk eksperimen yang saat itu masih belum saya temukan literaturnya,” ujarnya.

Dari hasil eksperimennya, bisa disimpulkan bahwa VCO juga bisa dihasilkan melalui metode baru ini. Lalu pada tahun 2004 dia mulai memproduksi VCO dengan metode ini. Hingga kini dia sudah menciptakan lima mesin yang merupakan mesin rancangannya sendiri dengan desain yang dia buat sendiri. Semua mesinnya berbahan dasar stainless steel dan dibuat oleh pemilik bengkel rumahan yang ada di lingkungan rumah produksinya. Lima mesin itu adalah alat chilled, alat de emulsi flyer, alat sentrifugal, alat evaporate, dan terakhir alat penyaring.

Untuk VCO hasil olahan Gani, sudah dipesan oleh perusahaan Jepang. Pesanan cukup banyak dalam sebulan. Dia menjelaskan, santan kelapa yang sudah diperas dimasukkan ke alat, dengan kapasitas 75 liter. Selama 11 tahun sejak tahun 2011, suami dr Alik Rio Yulia ini mempopulerkan VCO dengan metode ini. Usahanya awalnya mendapatkan cibiran dari banyak orang. Namun sekarang sudah bisa dirasakan manfaatnya.

Tak tanggung-tanggung, alat dan metode yang dia ciptakan ini memantik perhatian warga internasional. Bahkan, metodenya dinilai sebagai metode pertama di dunia. Alatnya juga belum pernah ditemukan di Asia Pasifik.
Ceritanya, sekitar tahun 2009 lalu, pabriknya mendapatkan kunjungan dari Asian Pasifik Coconut Community (APCC) dan mendapatkan pujian dari Romulo H Arancon, Excecutive Director. Menurut Gani, Romulo lah yang mengatakan bahwa alat yang diciptakan Gani merupakan pertama dan satu-satunya di Asia Pasifik. ”Pak Romulo sudah berkeliling ke negara-negara di Asia Pasifik. Dari hasil kunjungannya itu, dia tidak pernah menemukan mesin VCO dengan metode ini,” terangnya.

Tidak hanya itu saja, mesin rancangannya ini juga mendapatkan pujian dari pengusaha mesin dari India, saat kunjungan ke pabriknya. Tidak berhenti sampai di sana, pabriknya juga sering mendapatkan kunjungan dari luar negeri. Mulai dari Jepang, Filipina, India, Spanyol, Swiss, Jerman, hingga Malaysia. Bahkan, juga sudah memberikan pelatihan untuk orang dari Filipina dan Malaysia mengenai cara terbaik membuat VCO.

Bahkan, salah satu pengusaha asal Jepang, memesan banyak VCO dalam sebulan. ”Tapi produksi saya terbatas dalam satu bulan. Saya tidak bisa meng-cover permintaan tersebut,” terangnya.

Saat wartawan koran ini asyik berbincang, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan empat orang tamu. Yakni Pauline Puspita Claudie dan Beleven Khriamawan yang merupakan dosen dari FK UB. Mereka membawa tamu dari Universitas Miyazaki Jepang Prof Yuko Shiraisi dan Miyuko Nombu. Shiraisi mengatakan, kunjungannya ke pabrik Gani selain untuk menyaksikan lebih dekat proses pembuatan VCO, juga untuk menjalin kerja sama riset. ”Saya ingin menjalin kerja sama riset namun masih belum tahu untuk bidang apa. Maka dari itu sekarang saya mengunjungi pabrik ini,” terangnya dalam bahasa Jepang bercampur bahasa Inggris.

Sementara itu, Nombu mengatakan bahwa di Jepang VCO sangat populer namun harganya mahal. ”Satu liter Rp 600 ribu,” terangnya juga dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Untuk menghasilkan 1 liter VCO, dibutuhkan sekitar 20 butir kelapa. Artinya, dalam sebulan dibutuhkan 40 ribu butir kelapa. ”Saya memesan kelapa khusus dari Bali. Karena kualitas yang baik,” jelas dia.

Lantas apa motivasi Gani mengkampanyekan konsumsi santan eksklusif dan VCO. Padahal di dunia medis santan sangat dilarang mengonsumsi santan bagi penderita diabetes dan banyak penyakit lainnya. ”Sebab, banyak manfaat santan untuk kesehatan. Sudah saya buktikan dan aman untuk segala usia dan kesehatan. Konsumsi santan adalah hak orang untuk sehat,” jelas dia. (ika/c1/lia)

Berita asli bisa didapat di website harian Radar Malang